Postingan

Katanya....

Katanya Lelah for Lillah, tapi ketika Allah memanggilmu, tak bisakah perbincangan atau presentasi yang teramat-sangat-super-duper-penting-sekali itu kau hentikan demi mendengar suara adzan yang begitu jelas terdengar? Nyaman kah ketika seolah-olah suaramu hendak mengalahkan adzan yang berkumandang, bersahut-sahutan? Tak adakah keinginanmu untuk segera beranjak dari tempat rapatmu ketika dengan jelas iqomah terdengar di telingamu? Begitu pentingkah acara kita? Atau tagar lelah for Lillah itu hanya sekedar kata kata pemanis yang digunakan karena keharmonisan padanan setiap hurufnya? Padahal seharusnya, jika mengerti makna dari tagar yang digunakan untuk jarkoman itu, kita dahulukan panggilan Rabb dari semua kapel yang ada di muka bumi ini. Mendengarkan suara adzan yang terdengar syahdu. Bukankah, dapat mendengar adzan itu adalah suatu nikmat? Allah mengamanahimu telinga yang dapat mendengar, yang bahkan tidak semua orang dapat merasakan nikmat tersebut. Bahkan mungkin di bagian bumi ya...

MEMANGNYA PROKER DOANG YANG ADA LPJ-AN?

يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٦ Artinya: “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” Q.S. Al-Mujadilah: 6 -ceritanya rapatnya kepotong adzan- “rapatnya kita lanjut aja ya, urgent rek, sudah dekat hari H” “lanjut ya, bentar lagi kok” Sering ga sih, ketika kita lagi rapat lembaga atau rapat untuk membahas proker yang kita rasa harus dipersiapkan agar sesuai target banget, terus pas lagi asyiknya terdengar suara adzan? Masih sering juga ngga sih kita mengabaikan panggilan tersebut hanya karena alasan ‘tanggung ah, dikit lagi’, ‘ini urgent, waktu kita semakin dekat’, ‘udahlah, ntar aja’. Kenapa sih kita harus buat konsepan proker yang baguuuus banget? Uaaap...

Semangat UAS

Gambar
Jika belajar adalah ibadah, maka prestasi adalah dakwah. Giatkan ikhtiar kita dalam belajar, tapi jangan lupa, langitkan doa ke Arsy-Nya karena dibalik kesungguhan usaha kita, ada campur tangan Allah yang utama. Tanpa bantuan dari-Nya, dengan mudah bisa saja Allah hilangkan hasil jerih payah kita belajar berbulan-bulan di bangku kuliah. Mudah saja. Tetap semangat meski sedang berpuasa kita juga menjalani UAS. Dulu juga Rasulullah dan para sahabat berperang pada bulan Ramadhan. Bagaimana 313 pasukan muslim mampu mengalahkan 1000 orang musyrikin. Itulah kekuatan doa. Kita juga pasti bisa. Manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk mencari ridho Allah sebanyak-banyaknya​ semoga Allah mudahkan kita dalam menjalani UAS, sebagaimana Allah mudahkan kaum muslim ketika perang badar dahulu. Tenang, tak perlu bersontekan, karena nilai bagus bukan segalanya. UAS adalah bentuk evaluasi pemahaman kita terhadap materi yang telah kita pelajari selama ini. Toh, kita juga tidak akan bangga dengan nilai ...

Akhirnya Nge-Blog Lagi

Assalamualaykum! ^-^   Bagaimana kabar iman kita hari ini? Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita untuk terus beramal shalih dan bermanfaat untuk orang lain. Kehidupan baru yang dulunya dikira bakal bebas pakai laptop bisa kapan aja, ternyata malahan lebih jarang nulis lagi. Hehehe, maafin ya. Semoga lelah kita selama ini Lillah ya, untuk mencapai ridho Allah. Semoga, ide ide bagus yang ada ga cuma nempel di kepala aja, tapi jadi ladang buat mencari pahala *asik ga tuh, ambil kata-kata kodiv. Yeay, kehidupan kampus emang hectic banget guys, eh bukan hectic sih, emang akunya yang ga bisa bagi waktu. Astaghfirullah ya. Sekarang udah ga ada lagi yang ngingetin kapan harus tilawah, kapan murajaah, dan amal yaumi laiinya. Butuh banget sosok yang bisa upgrade iman ini tiap hari., Iya, aku memang masih harus diingetin untuk mencapai istiqomah. Maafin anakmu ini ya abi ummi yang hafalannya ga dimurajaah lagi. Huhuhu. Suka sedih deh karena ga bisa jadi istiqomah se istiqomah p...

Lama Tak Besua

Apa sih yang kamu rasain sekarang? Di kehidupan baru, suasana baru, kota baru, cuaca baru, dan banyak hal baru lainnya yang  ditemukan. Pertama yang gue rasain itu rindu. Rindu sama masa sekolah gue yang dulu, rindu sama orang tua gue, rindu kampung halaman gue. Ya, meskipun ini bukan tempat persinggahan gue yang pertama, cause gue udah dari kecil merantau. Tapi rindu suasana rumah itu ya pasti ada dong ya. Oh iya, kemarin om gue baru aja meninggal dunia. Beliau itu anak pertama di keluarga abi gue. Setelah kakek nenek gue udah ga ada lagi, ya om itu yang tetua di keluarga mereka, ibaratnya beliau lah pengganti orang tua mereka. Ya gue ga ngebayangin aja, Sekarang gue nangisin kepergian om gue, ga tau kalo bentar lagi mungkin gue, mungkin juga orang terdekat gue lagi. Dan gue belum punya bekal apa-apa yang bisa gue bawa menghadap Allah. Dan gue belum bisa ngasih apa apa ke orang yang gue cintai. Dan gue, belum menemukan, siapa diri gue sebenarnya. Gue terus terusan ga bisa hadir pa...

I'm Back

Assalamualaykum, bismillah gue kembali menulis disela-sela kesibukan yang baru. Sebenarnya ya ga sibuk-sibut banget sih, cuma sok sibuk dan ga bisa memanage waktu dengan baik aja. Oh iya, terakhir kali  posting di blog ini  detik-detik menjelang UN ya, dan udah berapa moment hidup yang dilalui tanpa  nulis disini. Ya maklum aja, setelah UN, laptopnya di Batam sementara gue masih berkutat dengan dsegala kesibukan diakhir masa sebelum kami meninggalkan kampus tercinta itu. Selama gue ga nulis, banyak kisah pahit manis yang gue rasain. Dari UN yang hasilnya ga sesuai harapan, dan itu bikin gue pas sujud bareng teman angkatan itu nangis. Air mata gue menyatu dengan air hujan yang seketika itu bikin kepala gue sakit banget. Jilbab gue yang baru aja gue ambil dari lemari kuyup gara-gara air mata, dan hujan. Untung hujan, jadi ga ketahuan. Gue ga begitu siap waktu itu, dengan hasil yang begitu menyesakkan dada gue. Setelah pengumuman UN, gue cuma ikutan sujud syukur bareng dan l...

Sepucuk Doa

Setangkai   do’a sepucuk harapan Yang tiada pernah henti kupanjatkan pada-Nya Yaa Ilahi Rabbi, aku cinta mereka Aku ingin membuat bibir mereka melengkung, tersenyum indah   Melengkapi lengkung pelangi yang terkena spectrum asa Namun, apalah daya diriku ini Semuanya belum menjadi nyata Dan hingga detik ini, aku hanya bisa membuat mereka kecewa Tapi Rabbi, mengapa mereka masih menerimaku? Mengapa mereka masih mendukungku? Rabbi, tak kuasa rasanya diriku menyaksikan kerutan di raut wajah mereka Padahal, aku yang membuat mereka marah dan kecewa Berkali – kali maaf terucap Berkali – kali mereka memaafkanku Berkali – kali ku kecewakan mereka Berkali – kali pula mereka membanggakanku Aku tak pantas dibanggakan Berkali – kali ku berjanji untuk membahagiakan mereka Berkali – kali pula kuingkari Rabbi, jika masih ada waktuku Aku ingin melukis wajah mereka dengan senyuman Sehingga aku bangga, sehingga mereka bahagia Dan aku akan menjadi or...