Postingan

Jika Beriman Punya Pilihan

Bismillahirrohmaanirrohiim.. Tulisan ini akan bermula dengan sebuah kalimat yang menyatukan kita untuk bermuara pada satu sujud penghambaan. Sebuah kalimat yang lebih dikenal dengan persaksian, namun sejatinya kalimat ini jika dimaknai lebih, bukan sekadar pada persaksian semata, tapi merupakan sebuah kalimat perjanjian. Kalimat itu adalah Syahadat ا شهد أن لا إله إلا الله  و اشهد أن محمد ر سو ل الله Jika mengartikan secara harfiah, syahadat memang diartikan sebagai persaksian. Namun, sejatinya syahadah ini menurut istilah diartikan sebagai ikrar atau perjanjian, bahwasanya Allah adalah satu satunya Ilaih yang wajib disembah dan Rasulullah sebagai utusan-Nya.  Ketika kalimah syahadat tersebut diucapkan, terikrarlah sudah pada diri untuk menerima dan rela menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadahi dan disembahi. Menjalankan sepenuh hati atas segala perintahnya, serta menjauhi segala apa yang dilarang. Apa yang dicintai oleh Allah, Rabbil Izzati ...

Tidak Menunggu Pantas

Biarkan tulisan ini kita mulai dengan sebait percakapan -------------------------------------------------------------------------------- "Kenapa harus aku?" "Kayaknya aku ga pantas deh" "Ada yang lain lebih baik" -------------------------------------------------------------------------------- Haru. Rasanya, baru saja kalimat serupa terlontar dari lisanku sendiri. Berada dalam posisi tertunduk. Melihat diri dengan kerendahan. Rasanya begitu berani dan tak pantas menerimanya. Ternyata aku sudah beranjak jauh. Bahkan hari ini, justru akulah yang berusaha menjadi orang yang meyakinkan kepada siapapun yang mengatakan itu. Aku pernah berada pada posisi itu. Meragu atas kemampuan diriku. Meragu atas kesempatan yang tertuju padaku. Jangan-jangan, Allah lah yang begitu pandai menutup burukku. Atau, itulah saatnya aku menigkatkan kapasitas diri. Tapi cerita yang lalu, jadi kenangan untuk hari ini. Ternyata kita mampu menembus batas dan berhasil menuntaska...

Memang Sengaja

Allah sebaik-baik sutradara dalam hidup. Mengatur segala apa yang ada di muka bumi ini. Planet mengorbit, daun terjatuh, angin gemuruh, burung berkicau, segalanya bergerak seraya bertasbih memuji Kuasa-Nya. Bahkan, Dia hadirkan diriku dengan segala cerita dan segala rentetan kisah yang semoga berjalannya dapat kuambil hikmah dan ibrah. Aku, yang meyakini hidupku sudah diatur sesuai ketetapan-Nya pun terkadang berangan. "Jika kelak aku begini.." Kira kira begitu gumamku dalam lamunan. Lantas dimana salahnya? Salah ketika aku terlalu banyak berharap, berkhayal, lantas ketika takdir menyapa, aku kecewa. Sebab aku salah arah. Meyakini, mengimpikan, menginginkan, sesuatu berlebih. Hingga saatnya tiba, jalannya bukan aku, melainkan yang lain. Aku pernah kecewa. Atas mimpi yang ku karang sendiri. Atas keyakinan yang ku khayal sendiri. Atas penyebutan nama dalam doa yang berambisi. Aku pernah kecewa. Atas rasa yang menggebu. Atas cita yang terkesan halu. Atas cinta yang meman...

Semoga Kamu Baik-baik Saja

Tiada salam terindah yang terbalas pula dengan doa terindah darimu Assalamualaykum warohmatullah wabarokatuh... dijawab yaa~ Kita mulai ngeblog kali ini dengan pembuka terindah "Bismillahirrahmanirrahim" Pengen ngucap alhamdulillah juga sih karena sampai saat ini Allah masih kasih kesempatan buat melakukan kehidupan yang normal. Ngebayangin ga sih, kalau tiba-tiba kita buka mata, terus kita gatau kita udah berada dimana kecuali tempat yang kita pijaki saat itu juga. Waktu bangun, kasur empuk kita udah ilang, ga ada orang di sekeliling kita. Pedih banget pasti rasanya, sampai pas nulis ini aja ga tahan rasanya ingin menangis.  Tapi plis, jangan nangis dulu, karena tulisan ini belum kelar. Jadi, tulisan kali ini bakal ceritain hasil dari ceritanya aku sama Kak Ayu. Kakak kelas di IC yang padahal di IC ga pernah ketemu (fyi, dia masuk kuliah 2012, aku kuliah 2016). Qadarullah waktu itu kami ketemu di acara mabit dikenalkan sama Kak Zahra yang juga kakak ke...

Mulai dari Mimpi

Gambar
Annyeong! Sekali-kali lah agak gaul dikit.  Kata orang, sukses itu berawal dari mimpi, jadi kalau mau sukses tidur dulu aja. Sebenarnya malam ini harus nyelesaikan proposal atau tugas kuliah gitu. Terus, pas mau ngumpulin niat, liat-liat instagram gitu deh, ngeliatin orang-orang yang lagi di luar negeri. Entah itu karena asli warga sana, atau lagi kuliah, atau keluarga yang tinggal di sana karena pekerjaan, bahkan ada juga orang-orang yang lagi di luar negeri karena liburan atau ada acara kayak konferensi gitu. Dan akhir-akhir ini emang lagi banyak banget dan suka bikin iri gitu. Kadang sambil liat-liat gitu sambil mikir, "Kapan ya gue ke sana?" atau "Ih, enak banget sih" Dan berujung pada air mata, terus minta ke Allah tetap aja sambil nge- scroll. Pengen banget deh. Serius, pengen banget. Kapan ya, gue bisa ikut lomba terus keliling gitu. Keliling Indonesia dulu aja deh, gapapa. Namanya juga manusia ya, ga ada puas-puasnya. Gue ga tau hal apa yang mendasar...

Kenapa Masih Bertahan? (2)

Assalamualaykum.. Ceritanya ini pembukaan. Tapi, dari pada bertele-tele, jadi cuma mau jelasin aja, kalau postingan kali ini lanjutan postingan sebelumnya aja sih. kayak keberlanjutan kisah dalam menapaki jalan yang ada di postingan sebelumnya. Ya gitu, kadang cerita Allah itu ga ada yang tau kelanjutannya, endingnya, ya pokonya tebak-tebakan Allah itu susah banget dah, Cak Lontong aja kalah tebakkanya. *okeskip* Terlepas dari perjalanan hidup pertama kali dilahirkan, sampe kuliah di UB, terus diajakin kakak kelas pas SMA buat daftar rohis, dan bertahan hingga saat ini. Ga ada yang mengira kalau seorang bocah bernama Auliya ini sekarang diamanhkan menjadi sekretaris departemen Dakwah Kampus Unit Aktivitas Kerohanian Islam (rohisnya kampus gitu) Itu semua bukan karena hebatnya, atau karena lebih berilmu. Mungkin Allah nutupin aib di depan orang-orang yang mengira Auliya ini pantas atau sanggup menjadi regenerasi dakwah. Atau, bisa aja karena pencitraannya yang terlalu berlebihan, s...

Kenapa Masih Bertahan?

         Kenapa masih mau berjibaku mengurusi jalan yang satu ini. Jalan yang berlikuuuuuuu benget, ga tau kapan bisa mencapai tujuan. Harapannya besar, kayak lagi jalan di padang pasir tandus, kering, gersang, terus berharap ketemu sungai yang airnya menyegarkan. Ugh, rasanyaaaaa. Pasti kalau ketemu sama tujuan itu senangnya bukan kepalang. Yaiyalah! Gimana engga? Berkilo-kilo meter tetap bertahan di jalan yang panas, gersang, kering, dan cuma ada diri sendiri, dan mungkin beberapa orang yang menyemangati dari kejauhan. Capek! IYA! Ga ada yang bilang itu semua ga melelahkan. Demi air yang segar tadi, kita rela buat terus berjalan. Entah kemanalah mereka-mereka yang bilang "Gue bakal ada buat lo"          Pertanyaan di atas yang selalu membuat diri  ini kembali merenungi. BUAT APA? Entah kenapa masih ada di jalan ini sampai sekarang. Bahkan detik ini, saat jemari bersentuhan dengan keyboard laptop, masih aja pertanyaan ini muncul ...